Sepenggal Kisah Bersama
Covid 19
Ada
yang tau apa itu virus corona???
Corona
Virus Disease 2019 atau lebih dikenal dengan covid 19 adalah suatu virus yang
menyerang sistem pernafasan manusia. Pertama kali ditemukan di Wuhan, China.
Covid 19 ini sudah menjadi pandemi karena menyebabkan banyak korban jiwa di
hampir semua negara di dunia dan pasti menjadi mimpi buruk bagi kita semua.
Segala macam aktivitas terhenti, perekonomian rapuh, korban meninggal mencapai
ribuan per harinya. Duka tidak hanya dirasakan bagi luar negeri saja, Indonesia
akhirnya mendapat giliran juga. Indonesia sudah tidak “kebal” lagi, dewi
fortuna bagi iklim tropis sepertinya sedang tidak berpihak pada kita. Kali ini
aku ingin membagi sedikit cerita di masa
pandemi.
Maliq,
anak keduaku lahir sehari setelah Surakarta menetapkan adanya KLB (Kejadian
Luar Biasa) Covid 19 tanggal 14 Maret karena ada pasien covid yang meninggal
dunia. Lockdown di Indonesia diberlakukan dikarenakan mulai banyaknya yang
terinfeksi oleh COVID-19. Saat itu aku yang baru setahun bekerja di sebuah
sekolah tinggi swasta di Tasikmalaya untungnya sudah mengajukan 3 bulan cuti
melahirkan dan mudik ke tanah kelahiranku, Wonogiri. Sedangkan anak pertamaku
yang masih duduk di bangku TK B tinggal di Wonogiri bersama dengan orang tuaku.
Tepat
tanggal 6 Maret lalu aku diantar suamiku dengan kereta api, alasannya ya karena
kandunganku yang tinggal menghitung hari membuatku tidak kuat untuk melakukan
perjalanan lebih dari 10 jam. Dokter memperkirakan hari perkiraan lahir sekitar
tanggal 17-19 Maret dan menyarankan untuk mulai cuti pada pertengahan Februari,
tapi aku keukeuh untuk sampai bulan Maret karena sudah berangan-angan untuk
berkumpul dengan keluarga besar di Wonogiri saat lebaran nanti. Karena
kebanyakan saudara dari keluarga simbah merupakan perantauan, dan tahun ini
adalah jatah mudik bersama untuk bersilaturahmi.
Seharusnya
sulungku, Mas Makki tanggal 15 Maret juga mengikuti lomba Drumband Tingkat TK
se karesidenan Surakarta dan tanggal 23 Maret dijadwalkan akan mengikuti
turnamen bulu tangkis di Magelang. Namun apa mau dikata, sejak hari Jumat
sekaresidenan Surakarta sudah gempar dengan virus corona yang berhasil menjebol
gawang Indonesia itu. Padahal persiapan dari TK anakku sudah final, tinggal
berangkat. Karena ststus KLB sudah ditetapkan konfirmasi dari panitia pun
datang, lomba ditunda sampai dengan waktu yang belum ditentukan. Segala
perasaan campur aduk disana. Lega karena anak-anak tidak harus datang ke lokasi
dekat zona merah, sedih karena kapan lagi dapat tampil bersama teman-teman grup
drumbandnya di TK. Karena anakku sebentar lagi juga lulus dan melanjutkan ke
SD.
Sama
halnya dengan lomba drumband, pihak panitia turnamen bulu tangkis juga
mengumumkan hal serupa. Padahal latihan fisik hampir setiap hari dilakukan.
Kegiatannya berselang seling dengan latihan drumband di TKnya. Persiapan yang
sudah maksimal terpaksa harus terhenti karena Dinas Pendidikan Kabupaten
Wonogiri juga meliburkan sekolah selama 14 hari. Sampai sekarang, kegiatan belajar
mengajarpun dilakukan dengan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) tanpa tatap muka.
Dan aku, walau mengajukan cuti, tetap dapat bekerja karena semua rekan kerjaku
juga bekerja dari rumah alias Work From Home.
Lebaranpun
menyapa, segalanya dilakukan dalam jaringan (daring) mulai dari sungkeman dan
silaturahmi. Jadi kebiasaan baru ketika tangan tak dapat berjabat, maka
gawaipun jadi sahabat. Ya, kita jadi berteman akrab dengan gawai. Karena bisa
silaturahmi, belanja, bahkan sekolahpun juga dengan daring. Hampir semua kota
melakukan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Segala aktifitas diberi
jarak, masyarakat diminta untuk selalu menjaga kebersihan dengan mencuci tangan
dengan sabun dan air mengalir setiap saat, tak lupa juga menggunakan masker.
Masa
PSBB di Tasikmalaya selesai bersamaan dengan habisnya masa cutiku, mau tidak
mau aku pun harus kembali menjalani tugas dan tanggung jawabku. Surat tugas
dari kampus aku terima pada awal Juni. Hal ini dilakukan karena untuk masuk ke
daerah lain harus memiliki surat izin terlebih dahulu. Di kampus, sistem piket
masih dilakukan dengan perbandingan 50:50. Seminggu masuk 2-3 kali. Kebiasaan
baru di New Normal pun dipatuhi dengan segala macam protokol kesehatan yang
diberlakukan untuk melindungi kita semua. Di kantor, pasar, pusat-pusat
perbelanjaan, tempat-tempat ibadah semuanya menerapkan protokol kesehatan. Hanya
saja sekolah-sekolah masih tutup dan berlanjut untuk PJJ. Hal ini dilakukan
dengan pertimbangan dari berbagai pihak. Memang berat di kuota sih..tapi harus
bagaimana lagi. Kita tentu lebih menyayangi anak kita kan? Dari pada mati
konyol lebih baik berkorban sedikit dengan boros di kuota. Ambil positifnya
saja, kita dapat meluangkan waktu belajar bersama anak. Ini juga sebagai upaya untuk
terus menjadi orang tua, guru dan sahabat bagi anak kita. Bagaimana dengan
kalian?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar