Selasa, 09 Agustus 2022

 

Sepenggal Kisah Bersama Covid 19

 

Ada yang tau apa itu virus corona???

Corona Virus Disease 2019 atau lebih dikenal dengan covid 19 adalah suatu virus yang menyerang sistem pernafasan manusia. Pertama kali ditemukan di Wuhan, China. Covid 19 ini sudah menjadi pandemi karena menyebabkan banyak korban jiwa di hampir semua negara di dunia dan pasti menjadi mimpi buruk bagi kita semua. Segala macam aktivitas terhenti, perekonomian rapuh, korban meninggal mencapai ribuan per harinya. Duka tidak hanya dirasakan bagi luar negeri saja, Indonesia akhirnya mendapat giliran juga. Indonesia sudah tidak “kebal” lagi, dewi fortuna bagi iklim tropis sepertinya sedang tidak berpihak pada kita. Kali ini aku ingin membagi sedikit cerita di masa pandemi.

Maliq, anak keduaku lahir sehari setelah Surakarta menetapkan adanya KLB (Kejadian Luar Biasa) Covid 19 tanggal 14 Maret karena ada pasien covid yang meninggal dunia. Lockdown di Indonesia diberlakukan dikarenakan mulai banyaknya yang terinfeksi oleh COVID-19. Saat itu aku yang baru setahun bekerja di sebuah sekolah tinggi swasta di Tasikmalaya untungnya sudah mengajukan 3 bulan cuti melahirkan dan mudik ke tanah kelahiranku, Wonogiri. Sedangkan anak pertamaku yang masih duduk di bangku TK B tinggal di Wonogiri bersama dengan orang tuaku.

Tepat tanggal 6 Maret lalu aku diantar suamiku dengan kereta api, alasannya ya karena kandunganku yang tinggal menghitung hari membuatku tidak kuat untuk melakukan perjalanan lebih dari 10 jam. Dokter memperkirakan hari perkiraan lahir sekitar tanggal 17-19 Maret dan menyarankan untuk mulai cuti pada pertengahan Februari, tapi aku keukeuh untuk sampai bulan Maret karena sudah berangan-angan untuk berkumpul dengan keluarga besar di Wonogiri saat lebaran nanti. Karena kebanyakan saudara dari keluarga simbah merupakan perantauan, dan tahun ini adalah jatah mudik bersama untuk bersilaturahmi.

Seharusnya sulungku, Mas Makki tanggal 15 Maret juga mengikuti lomba Drumband Tingkat TK se karesidenan Surakarta dan tanggal 23 Maret dijadwalkan akan mengikuti turnamen bulu tangkis di Magelang. Namun apa mau dikata, sejak hari Jumat sekaresidenan Surakarta sudah gempar dengan virus corona yang berhasil menjebol gawang Indonesia itu. Padahal persiapan dari TK anakku sudah final, tinggal berangkat. Karena ststus KLB sudah ditetapkan konfirmasi dari panitia pun datang, lomba ditunda sampai dengan waktu yang belum ditentukan. Segala perasaan campur aduk disana. Lega karena anak-anak tidak harus datang ke lokasi dekat zona merah, sedih karena kapan lagi dapat tampil bersama teman-teman grup drumbandnya di TK. Karena anakku sebentar lagi juga lulus dan melanjutkan ke SD.

Sama halnya dengan lomba drumband, pihak panitia turnamen bulu tangkis juga mengumumkan hal serupa. Padahal latihan fisik hampir setiap hari dilakukan. Kegiatannya berselang seling dengan latihan drumband di TKnya. Persiapan yang sudah maksimal terpaksa harus terhenti karena Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri juga meliburkan sekolah selama 14 hari. Sampai sekarang, kegiatan belajar mengajarpun dilakukan dengan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) tanpa tatap muka. Dan aku, walau mengajukan cuti, tetap dapat bekerja karena semua rekan kerjaku juga bekerja dari rumah alias Work From Home.

Lebaranpun menyapa, segalanya dilakukan dalam jaringan (daring) mulai dari sungkeman dan silaturahmi. Jadi kebiasaan baru ketika tangan tak dapat berjabat, maka gawaipun jadi sahabat. Ya, kita jadi berteman akrab dengan gawai. Karena bisa silaturahmi, belanja, bahkan sekolahpun juga dengan daring. Hampir semua kota melakukan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Segala aktifitas diberi jarak, masyarakat diminta untuk selalu menjaga kebersihan dengan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setiap saat, tak lupa juga menggunakan masker.

Masa PSBB di Tasikmalaya selesai bersamaan dengan habisnya masa cutiku, mau tidak mau aku pun harus kembali menjalani tugas dan tanggung jawabku. Surat tugas dari kampus aku terima pada awal Juni. Hal ini dilakukan karena untuk masuk ke daerah lain harus memiliki surat izin terlebih dahulu. Di kampus, sistem piket masih dilakukan dengan perbandingan 50:50. Seminggu masuk 2-3 kali. Kebiasaan baru di New Normal pun dipatuhi dengan segala macam protokol kesehatan yang diberlakukan untuk melindungi kita semua. Di kantor, pasar, pusat-pusat perbelanjaan, tempat-tempat ibadah semuanya menerapkan protokol kesehatan. Hanya saja sekolah-sekolah masih tutup dan berlanjut untuk PJJ. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan dari berbagai pihak. Memang berat di kuota sih..tapi harus bagaimana lagi. Kita tentu lebih menyayangi anak kita kan? Dari pada mati konyol lebih baik berkorban sedikit dengan boros di kuota. Ambil positifnya saja, kita dapat meluangkan waktu belajar bersama anak. Ini juga sebagai upaya untuk terus menjadi orang tua, guru dan sahabat bagi anak kita. Bagaimana dengan kalian?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar