Jumat, 12 Agustus 2022

 KENANGAN, LELAKI TUA DAN LANGGAR

Oktaviana Maya Dewi Pagi itu, ramadhan 3 tahun lalu. Jam dinding menunjukkan masih pukul 03.30. Di sudut langgar pinggiran kampungku, tampak seorang renta yang sudah sibuk menimba air demi mengisi padasan. Mbah Karso Kromo dia biasa dipanggil, usianya tak lagi muda tahun ini menurut KTP sudah menginjak 75 tahun, aslinya mungkin lebih, mengingat orang jaman dulu hanya mengingat wetonnya saja. Tubuhnya renta tapi tidak menghapus jejak betapa gagahnya beliau dimasa mudanya. Tinggal tak jauh dari langgar sehingga selalu sibuk mengurusi segala macam tetek bengek yang berhubungan dengan langgar. Seperti pagi sebelumnya, sebelum kumandang adzan subuh Mbah Karso sudah sibuk dengan ember dan timba. Setelah 20 ember timba dinaikkan penuhlah padasan yang cukup besar itu, sehingga untuk seharian ini orang-orang yang berjamaah di masjid dapat berwudhu tanpa kesusahan. Sambil mendendangkan puji-pujian kepada Ilahi, Mbah Karso mulai menimba. Dengan ditemani dingin yang menyentuh kulit, rengeng-rengeng Mbah Karso menyentuh kalbu..syahdu.. Sholatullah salamullah... “Mbah, piyambakan?” sapaku berbasa basi sambil mendekat ke arahnya. “Woh..iya, Le. Lha arep karo sapa meneh mbahe ki. Nek saiki merga ana awakmu dadi mbahe ra dewe” Jawabnya sambil memasukkan air timba ke padasan. Entah sudah berapa ember kali ini. “Kula gentosi nggih, Mbah.” Kataku sambil meminta timba yang beliau genggam erat. “Uwis, orasah. Gek kono sholat qobliyah disik, mau tahajud ora Le?” Sambil nyengir dan garuk-garuk kepala aku menggeleng. “Mumpung isih ono wektu gek kono, nyenyuwun karo Gusti Pangeran. Awake dewe isih diparingi kesehatan, rezeki karo umur ki jik kurang kanggo mbales kasih sayange Gusti Pangeran. Gage!” perintahnya yang mau tidak mau aku segera mengambil air wudhu dan beranjak menuju langgar. Sungguh, hatiku merasa tersentil dengan ucapan Mbah Karso Kromo barusan. Allah sangat menyayangi hamba-hambaNya, tapi sebagai hambaNya untuk beribadah saja harus menunggu diingatkan dulu. Dalam sujud panjangku, doa-doa kupanjatkan untuk mbah Karso dengan ikhlas hidupnya hanya untuk beribadah kepadaNya. Semoga keihklasannya mampu membangunkan orang-orang kampung yang masih belum sadar akan keberadaan langgar di kampungku ini. Mereka masih acuh dengan panggilan yang berkumandang dari langgar. Ah.. rindu rasanya pada lelaki renta yang menimba sambil mendendangkan pujian kepada Sang Khalik, apa kabarnya beliau. Sudah 2 kali lebaran ini aku tak pulang ke kampungku. Apa mbah Karso masih sanggup memenuhi padasan dengan 20 ember timba? Apa langgar masih seperti dahulu? Ataukah warga kampung sudah mulai memenuhi langgar ketika seruan untuk berjamaah berkumandang? Mbah...aku rindu rengeng-rengengmu... Sholatullah salamullah... Lebaran tahun lalu aku tak berlebaran di kampung karena ada proyek yang harus kukerjakan di luar pulau. Sebagai pekerja aku harus mengikuti aturan yang dibuat oleh atasan. Sedangkan lebaran tahun ini, sebagai warga negara yang baik aku juga harus mengikuti anjuran pemerintah yang melarang mudik. Ya, mudik tahun ini ditiadakan karena adanya wabah yang melanda seluruh dunia. Dunia diselimuti ketakutan, kepanikan dan ketegangan dalam menghadapi musuh yang tak terlihat. Bagaimana dengan aku sendiri yang hidup di ibukota? Aku masih beraktivitas seperti biasa, tapi dengan mengikuti anjuran dari para pemimpin. Beraktifitas di rumah. Beribadah di rumah. Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Takut? Tentu saja, siapa yang tidak takut mati? Sedangkan bekal pun juga belum siap. Betapa rindunya pada suasana di kampung, seandainya aku tak merantau pasti aku akan selalu berjamaah dengan mbah Karso Kromo di langgar, masih melihat anak-anak yang dengan riang jeguran di kali. Mencari belut di sawah. Ahh... sudah berapa andai yang kurajut dalam semalam. Semuanya tak kan terwujud, karena disinilah aku. Di pojok rumah kontrakan yang kusewa untuk melepas penat setelah seharian bergelut mengais rupiah. Masih teringat pitutur bijak lelaki renta yang entah sejak kapan dekat denganku itu. “Le, cah lanang kui nek iso golek pengalaman sing okeh. Ngumbara golek ngelmu, golek pengalaman, golek konco lan sedulur sak okeh-okehe. Nanging ojo kok lalekno leluhurmu sing ono ndeso iki. Ojo kacang ninggalno lanjaran. Ojo dadi bocah sing lali asal usulmu. Mulo yo ngger, sak adoh-adohe lehmu ngumbara tetep eling karo wong tuwa.ning ndi wae panggonmu eling o marang sing agawe urip. Marang Gusti Pengeran. Palilahe wong tuwa kui mujudake palilahe Gusti Pengeran.” Dadio wong sing lembah manah, ora adigang adigung adiguna. Tapi wejangan mbah Karso Kromo hanya aku yang mendengar, ditengah krisis seperti ini ada saja yang malah memanfaatkan situasi. Tempat-tempat ibadah sepi karena diwajibkan untuk beribadah di rumah saja. Napi asimilasi dibebaskan, ujung-ujungnya maling mulai hilir mudik sampai ke pelosok desa. Walaupun belum tentu pelakunya mantan napi, banyak penjahat baru yang terlahir dari krisis ini. Banyak manusia yang tidak dapat memanusiakan manusia lainnya. Hilang sudah sila kedua dari Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab. Mulai egois memikirkan diri sendiri, hilang empati. Membeli barang-barang secara membabi buta. Yang berkuasa merasa semua dapat dibeli dengan uang. Tapi semua itu tidak ada harganya dimata Allah. Maut tak memandang kaya miskin. Kun fayakun, nek Gusti Pengeran berkehendak, le..gampang banget ngerubah uripe wong. Dadi welingku ojo adoh seko Gusti Pengeran. Ojo nganti teteging imanmu goyah, eling lan tansah dieling-eling. Gusti Pengeran mboten sare. Yakin, nek pecoban seko Gusti kui enek hikmahe. Ojo nganti pedhot nggonmu ndonga. Dan pada senja ini, sambil memandang got yang berair keruh aku sampaikan banyak pengharapan tentang kehidupan. Seperti halnya Lelaki tua yang mencintai langgar seperti mencintai Rabbnya. 21 Ramadhan 1441 H.

Selasa, 09 Agustus 2022

 

Sepenggal Kisah Bersama Covid 19

 

Ada yang tau apa itu virus corona???

Corona Virus Disease 2019 atau lebih dikenal dengan covid 19 adalah suatu virus yang menyerang sistem pernafasan manusia. Pertama kali ditemukan di Wuhan, China. Covid 19 ini sudah menjadi pandemi karena menyebabkan banyak korban jiwa di hampir semua negara di dunia dan pasti menjadi mimpi buruk bagi kita semua. Segala macam aktivitas terhenti, perekonomian rapuh, korban meninggal mencapai ribuan per harinya. Duka tidak hanya dirasakan bagi luar negeri saja, Indonesia akhirnya mendapat giliran juga. Indonesia sudah tidak “kebal” lagi, dewi fortuna bagi iklim tropis sepertinya sedang tidak berpihak pada kita. Kali ini aku ingin membagi sedikit cerita di masa pandemi.

Maliq, anak keduaku lahir sehari setelah Surakarta menetapkan adanya KLB (Kejadian Luar Biasa) Covid 19 tanggal 14 Maret karena ada pasien covid yang meninggal dunia. Lockdown di Indonesia diberlakukan dikarenakan mulai banyaknya yang terinfeksi oleh COVID-19. Saat itu aku yang baru setahun bekerja di sebuah sekolah tinggi swasta di Tasikmalaya untungnya sudah mengajukan 3 bulan cuti melahirkan dan mudik ke tanah kelahiranku, Wonogiri. Sedangkan anak pertamaku yang masih duduk di bangku TK B tinggal di Wonogiri bersama dengan orang tuaku.

Tepat tanggal 6 Maret lalu aku diantar suamiku dengan kereta api, alasannya ya karena kandunganku yang tinggal menghitung hari membuatku tidak kuat untuk melakukan perjalanan lebih dari 10 jam. Dokter memperkirakan hari perkiraan lahir sekitar tanggal 17-19 Maret dan menyarankan untuk mulai cuti pada pertengahan Februari, tapi aku keukeuh untuk sampai bulan Maret karena sudah berangan-angan untuk berkumpul dengan keluarga besar di Wonogiri saat lebaran nanti. Karena kebanyakan saudara dari keluarga simbah merupakan perantauan, dan tahun ini adalah jatah mudik bersama untuk bersilaturahmi.

Seharusnya sulungku, Mas Makki tanggal 15 Maret juga mengikuti lomba Drumband Tingkat TK se karesidenan Surakarta dan tanggal 23 Maret dijadwalkan akan mengikuti turnamen bulu tangkis di Magelang. Namun apa mau dikata, sejak hari Jumat sekaresidenan Surakarta sudah gempar dengan virus corona yang berhasil menjebol gawang Indonesia itu. Padahal persiapan dari TK anakku sudah final, tinggal berangkat. Karena ststus KLB sudah ditetapkan konfirmasi dari panitia pun datang, lomba ditunda sampai dengan waktu yang belum ditentukan. Segala perasaan campur aduk disana. Lega karena anak-anak tidak harus datang ke lokasi dekat zona merah, sedih karena kapan lagi dapat tampil bersama teman-teman grup drumbandnya di TK. Karena anakku sebentar lagi juga lulus dan melanjutkan ke SD.

Sama halnya dengan lomba drumband, pihak panitia turnamen bulu tangkis juga mengumumkan hal serupa. Padahal latihan fisik hampir setiap hari dilakukan. Kegiatannya berselang seling dengan latihan drumband di TKnya. Persiapan yang sudah maksimal terpaksa harus terhenti karena Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri juga meliburkan sekolah selama 14 hari. Sampai sekarang, kegiatan belajar mengajarpun dilakukan dengan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) tanpa tatap muka. Dan aku, walau mengajukan cuti, tetap dapat bekerja karena semua rekan kerjaku juga bekerja dari rumah alias Work From Home.

Lebaranpun menyapa, segalanya dilakukan dalam jaringan (daring) mulai dari sungkeman dan silaturahmi. Jadi kebiasaan baru ketika tangan tak dapat berjabat, maka gawaipun jadi sahabat. Ya, kita jadi berteman akrab dengan gawai. Karena bisa silaturahmi, belanja, bahkan sekolahpun juga dengan daring. Hampir semua kota melakukan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Segala aktifitas diberi jarak, masyarakat diminta untuk selalu menjaga kebersihan dengan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setiap saat, tak lupa juga menggunakan masker.

Masa PSBB di Tasikmalaya selesai bersamaan dengan habisnya masa cutiku, mau tidak mau aku pun harus kembali menjalani tugas dan tanggung jawabku. Surat tugas dari kampus aku terima pada awal Juni. Hal ini dilakukan karena untuk masuk ke daerah lain harus memiliki surat izin terlebih dahulu. Di kampus, sistem piket masih dilakukan dengan perbandingan 50:50. Seminggu masuk 2-3 kali. Kebiasaan baru di New Normal pun dipatuhi dengan segala macam protokol kesehatan yang diberlakukan untuk melindungi kita semua. Di kantor, pasar, pusat-pusat perbelanjaan, tempat-tempat ibadah semuanya menerapkan protokol kesehatan. Hanya saja sekolah-sekolah masih tutup dan berlanjut untuk PJJ. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan dari berbagai pihak. Memang berat di kuota sih..tapi harus bagaimana lagi. Kita tentu lebih menyayangi anak kita kan? Dari pada mati konyol lebih baik berkorban sedikit dengan boros di kuota. Ambil positifnya saja, kita dapat meluangkan waktu belajar bersama anak. Ini juga sebagai upaya untuk terus menjadi orang tua, guru dan sahabat bagi anak kita. Bagaimana dengan kalian?

 

PANDEMI? YUK AJARKAN ANAK BACA BUKU DENGAN METODE MONTESSORI!

Oleh: Oktaviana Maya Dewi

 

Apa yang akan kamu lakukan jika di hadapanmu ada sebuah buku yang tengah terbuka?? Membacanya atau acuh saja??

Membaca, sepertinya kata yang mudah dipahami. Akan tetapi wujud kongkrit dari membaca sangatlah luas jika dijabarkan. Bagi anak usia dini membaca sepertinya belum begitu penting. Tapi, bukankah penanaman kegemaran membaca sebaiknya dipupuk sedini mungkin. Bahkan sejak dalam kandungan. Apalagi disaat pandemi seperti saat ini. Peran kita sebagai orang tua sangatlah penting bagi pendidikan karakter anak. Bagi orang tua yang sehari-hari bergelut dengan aktivitas membaca mungkin tidak diragukan lagi, namun bagaimana jadinya jika orang tuanya sangat jauh dari kebiasaan membaca.

Apa sih keutamaan membaca untuk anak-anak?

Di masa anak-anak, perkembangan otak mereka sangat cepat. Jika sejak dalam kandungan janin sudah dibiasakan dibacakan buku maka menurut penelitian otak anak yang lahir tersebut lebih cerdas dibandingkan dengan anak yang tidak dibacakan buku. Anak-anak dibiasakan dengan buku dengan cara membacakan dengan nyaring. Bahkan untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus membaca dengan nyaring dapat menstimulasi otak mereka. Dengan mendengar mereka dapat tenang dan bisa fokus jika kita membacanya dengan intonasi yang sesuai. Pada anak usia dini membaca dapat mengembangkan kemampuan bahasanya, menambah pemahaman mereka akan ilmu pengetahuan.

Interaksi antara buku, orang tua dan anak menurut Ibu Rossie dari Read Aloud dapat meningkatkan kualitas hidup anak. Melek gambar dulu baru melek huruf. Sedangkan Miss Zahra Zahira, seorang montessorian juga mengatakan bahwa perlu ada beberapa hal yang diperhatikan dalam mengajarkan membaca kepada anak-anak dengan tepat. Adakah yang masih asing dengan Montessori? Apa sih Montessori itu?

Metode montessori pertama kali dikenalkan oleh seorang dokter Italia yang bernama Maria Montessori di sekolah pertamanya Casa de Bambini, walaupun di negaranya sudah berjalan lebih dari 1 abad Indonesia masih belum lama menerapkannya dalam kegiatan belajar mengajar. Guru-guru masih menggunakan metode konvensional dengan mengeja dalam mengajarkan membaca pada anak-anak. Hal ini membuat anak merasa jenuh dan enggan untuk hanya sekedar membuka buku. Karena tuntutan harus bisa baca, harus bisa hafal. Ini yang menjadi PR kita sebagai orang tua, bagaimana sih biar membaca menjadi menyenangkan?

Miss Zahra Zahira, mengusung montessori dengan bahasa indonesia, sehingga dapat kita aplikasikan di rumah bersama buah hati kita. Sebelum membaca, ajari menulis dahulu. Tulisan merupakan alat komunikasi anak, menulis membutuhkan kemampuan yang lebih sederhana daripada membaca. Saat menulis anak-anak membutuhkan koordinasi antara otak dan tangan. Lama kelamaan anak-anak akan memahami bahwa ada keterkaitan antara tulisan dengan huruf. Sedangkan saat membaca anak-anak membutuhkan kemampuan yang lebih kompleks dengan menghafal simbol, merangkai suku kata, sampai memahami makna. Yang pertama ajari untuk menulis namanya. Setelah itu baru kata-kata lain yang ada maknanya.

Ada 2 tahapan dalam menulis. Tahap pre writing dan writing.

Tahap pre reading meliputi Practical Life Activity dengan melakukan berbagai aktivitas sehari-hari yang berguna untuk melatih kekuatan otot tangan, melatih cengkeraman ataupun genggaman dengan menjepit, koordinasi antara tangan dengan mata, serta koordinasi. Seperti membuka dan menutup toples, memotong sayuran, masak-masakan, dan lain-lain. Sedangkan sensorial activity seperti memindahkan silinder-silinder dari tray yang satu ke tray yang lain, mengurutkan kubus dari yang terbesar ke yang terkecil atau sebaliknya, dan lain-lain.

Untuk tahap writing anak-anak bermain dan melakukan aktivitas dengan metal inset, sand paper, sand tray, green boards dan lined paper sehingga semua kegiatan memacu rasa ingin tahu dan antusiasme anak.

Membaca haruslah menjadi kegiatan yang menyenangkan. Anak-anak tidak merasa terbebani dan melakukan kegiatan ini dengan senang.

Tahapan membaca juga ada 2, tahap pre reading dan reading.

Tahap pre reading meliputi kegiatan bercakap-cakap, bercerita, bernyayi, membacakan buku cerita, mencocokkan objek, mencocokan kartu, mencocokan objek dengan kartu, kartu nomenklatur, thematic letters activity,

Sedang untuk tahap reading bahasa indonesia sudah dimodifikasi melalui metal inset, sandpaper letter suku kata, large movable alphabet bahasa Indonesia, Pink Blue Green Series. Disini kita harus mencari kata yang memang ada maknanya. Sehingga anak akan memahami bahwa tulisan, ucapan dan bendanya memang berhubungan. Disinilah kemampuan kita diuji untuk mempersiapkan kemampuan anak untuk dapat membaca mandiri. Orang tua akan lebih memahami bahwa anak memiliki keistimewaan masing-masing. Ada yang cepat adapula yang lambat, kita dituntut untuk mengetahui bahwa anak-anak memiliki sensitive period dimana kita harus bisa follow the child.

Anak yang sudah bisa membaca mandiri kadang masih minta dibacakan oleh orang tuanya, hal ini dilakukan karena anak hanya meminta waktu bersama orang tua. Bukannya anak manja dan tidak mandiri, tapi lebih kepada adanya bounding antara anak dan orang tua dalam hal ini. Hal inilah yang nantinya akan dapat membangun komunikasi yang baik antara kita sebagai orang tua dengan anak.

Perlu diingat, bahwa mendongeng berbeda dengan membacakan cerita. Bila mendongeng lebih kepada aktivitas Karena ada aktivitas fisik dengan buku, sehingga akan meningkatkan minat baca anak.

 

 

Kurniastuti, I. (2016). Mengenal Kesukaran Belajar Membaca Menulis Awal Siswa Sekolah Dasar Dan Metode Montessori Sebagai Alternatif Pengajarannya. Jurnal Penelitian, 19(2).

Sumitra, A., & Sumini, N. (2019). Peran Guru dalam Mengembangkan Kemampuan Minat Baca Anak Usia Dini Melalui Metode Read Aloud. Jurnal Ilmiah Potensia, 4(2), 115-120.

Webinar PKM perpusnas

Workshop membaca, menulis menyenangkan dengan montessori bersama Zahra Zahira.

Minggu, 29 April 2012

TARI UNTUK SENI


Tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran. Bunyi-bunyian yang disebut musik pengiring tari mengatur gerakan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan. Menurut jenisnya, tari digolongkan menjadi tari rakyat, tari klasik, dan tari kreasi baru.
Tari rakyat yaitu tarian yang diciptakan oleh satu masyarakat ditempat yang berbeda-beda. Contoh dari tarian rakyat ini antara lain, Sintren, tayub, lengger. Tari klasik adalah tari yang mengalami kristalisasi keindahan yang tinggi dan sudah ada sejak jaman feodal. Tari ini biasanya hidup di lingkungan keraton. Contoh tari klasik adalah bedaya, srimpi, lawung ageng, lawung alit. Sedangkan Tari kreasi baru adalah tari-tari klasik yang dikembangkan sesuai dengan perkembangan jaman dan diberi nafas Indonesia baru. Contoh tari kreasi baru adalah karya-karya dari Bagong Kusudiarjo dari padepokan Bagong Kusudiarjo dan Untung Muljono dari sanggar Kembang Sore dari Yogyakarta. Contohnya Tari Kupu-Kupu, Tari Merak, Tari Roro Ngigel, dll.
Salah satu contoh kreasi baru karya Wardoko dari Sanggar Kembang Sore adalah Tari Kebyok Anting-Anting. Dalam pementasan kali ini, Tarian ini dipilih karena sesuai dengan usia anak-anak yang masih senang bermain, yaitu, antara usia 9-12 tahun. Berdasar dari arti bahasanya, Kebyok merupakan sebutan alat pemukul kasur. Kebyok yang digunakan dalam tarian ini berupa rumbai-rumbai semacam pom-pom yang biasanya digunakan oleh cheerleaders untuk memberi semangat pemain basket. Pom-pom ini terbuat dari rafia yang disisir sampai halus. Pompom disini berfungsi sebagai media yang digunakan untuk menyalurkan kegembiraan anak-anak. Sedangkan makna dari anting-anting adalah mengayunkan. Gerakan-gerakan dalam tarian ini sederhana dan khas anak-anak sehingga memudahkan mereka dalam mengingat setiap gerakan dalam tarian ini. Selain itu mereka menggunakan properti pompom yang dapat mereka buat sendiri.  Keceriaan mereka dapat tersalurkan dalam gerakan-gerakan yang ritmis dan dinamis.