KENANGAN, LELAKI TUA DAN LANGGAR
Oktaviana Maya Dewi Pagi itu, ramadhan 3 tahun lalu. Jam dinding menunjukkan masih pukul 03.30. Di sudut langgar pinggiran kampungku, tampak seorang renta yang sudah sibuk menimba air demi mengisi padasan. Mbah Karso Kromo dia biasa dipanggil, usianya tak lagi muda tahun ini menurut KTP sudah menginjak 75 tahun, aslinya mungkin lebih, mengingat orang jaman dulu hanya mengingat wetonnya saja. Tubuhnya renta tapi tidak menghapus jejak betapa gagahnya beliau dimasa mudanya. Tinggal tak jauh dari langgar sehingga selalu sibuk mengurusi segala macam tetek bengek yang berhubungan dengan langgar. Seperti pagi sebelumnya, sebelum kumandang adzan subuh Mbah Karso sudah sibuk dengan ember dan timba. Setelah 20 ember timba dinaikkan penuhlah padasan yang cukup besar itu, sehingga untuk seharian ini orang-orang yang berjamaah di masjid dapat berwudhu tanpa kesusahan. Sambil mendendangkan puji-pujian kepada Ilahi, Mbah Karso mulai menimba. Dengan ditemani dingin yang menyentuh kulit, rengeng-rengeng Mbah Karso menyentuh kalbu..syahdu.. Sholatullah salamullah... “Mbah, piyambakan?” sapaku berbasa basi sambil mendekat ke arahnya. “Woh..iya, Le. Lha arep karo sapa meneh mbahe ki. Nek saiki merga ana awakmu dadi mbahe ra dewe” Jawabnya sambil memasukkan air timba ke padasan. Entah sudah berapa ember kali ini. “Kula gentosi nggih, Mbah.” Kataku sambil meminta timba yang beliau genggam erat. “Uwis, orasah. Gek kono sholat qobliyah disik, mau tahajud ora Le?” Sambil nyengir dan garuk-garuk kepala aku menggeleng. “Mumpung isih ono wektu gek kono, nyenyuwun karo Gusti Pangeran. Awake dewe isih diparingi kesehatan, rezeki karo umur ki jik kurang kanggo mbales kasih sayange Gusti Pangeran. Gage!” perintahnya yang mau tidak mau aku segera mengambil air wudhu dan beranjak menuju langgar. Sungguh, hatiku merasa tersentil dengan ucapan Mbah Karso Kromo barusan. Allah sangat menyayangi hamba-hambaNya, tapi sebagai hambaNya untuk beribadah saja harus menunggu diingatkan dulu. Dalam sujud panjangku, doa-doa kupanjatkan untuk mbah Karso dengan ikhlas hidupnya hanya untuk beribadah kepadaNya. Semoga keihklasannya mampu membangunkan orang-orang kampung yang masih belum sadar akan keberadaan langgar di kampungku ini. Mereka masih acuh dengan panggilan yang berkumandang dari langgar. Ah.. rindu rasanya pada lelaki renta yang menimba sambil mendendangkan pujian kepada Sang Khalik, apa kabarnya beliau. Sudah 2 kali lebaran ini aku tak pulang ke kampungku. Apa mbah Karso masih sanggup memenuhi padasan dengan 20 ember timba? Apa langgar masih seperti dahulu? Ataukah warga kampung sudah mulai memenuhi langgar ketika seruan untuk berjamaah berkumandang? Mbah...aku rindu rengeng-rengengmu... Sholatullah salamullah... Lebaran tahun lalu aku tak berlebaran di kampung karena ada proyek yang harus kukerjakan di luar pulau. Sebagai pekerja aku harus mengikuti aturan yang dibuat oleh atasan. Sedangkan lebaran tahun ini, sebagai warga negara yang baik aku juga harus mengikuti anjuran pemerintah yang melarang mudik. Ya, mudik tahun ini ditiadakan karena adanya wabah yang melanda seluruh dunia. Dunia diselimuti ketakutan, kepanikan dan ketegangan dalam menghadapi musuh yang tak terlihat. Bagaimana dengan aku sendiri yang hidup di ibukota? Aku masih beraktivitas seperti biasa, tapi dengan mengikuti anjuran dari para pemimpin. Beraktifitas di rumah. Beribadah di rumah. Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Takut? Tentu saja, siapa yang tidak takut mati? Sedangkan bekal pun juga belum siap. Betapa rindunya pada suasana di kampung, seandainya aku tak merantau pasti aku akan selalu berjamaah dengan mbah Karso Kromo di langgar, masih melihat anak-anak yang dengan riang jeguran di kali. Mencari belut di sawah. Ahh... sudah berapa andai yang kurajut dalam semalam. Semuanya tak kan terwujud, karena disinilah aku. Di pojok rumah kontrakan yang kusewa untuk melepas penat setelah seharian bergelut mengais rupiah. Masih teringat pitutur bijak lelaki renta yang entah sejak kapan dekat denganku itu. “Le, cah lanang kui nek iso golek pengalaman sing okeh. Ngumbara golek ngelmu, golek pengalaman, golek konco lan sedulur sak okeh-okehe. Nanging ojo kok lalekno leluhurmu sing ono ndeso iki. Ojo kacang ninggalno lanjaran. Ojo dadi bocah sing lali asal usulmu. Mulo yo ngger, sak adoh-adohe lehmu ngumbara tetep eling karo wong tuwa.ning ndi wae panggonmu eling o marang sing agawe urip. Marang Gusti Pengeran. Palilahe wong tuwa kui mujudake palilahe Gusti Pengeran.” Dadio wong sing lembah manah, ora adigang adigung adiguna. Tapi wejangan mbah Karso Kromo hanya aku yang mendengar, ditengah krisis seperti ini ada saja yang malah memanfaatkan situasi. Tempat-tempat ibadah sepi karena diwajibkan untuk beribadah di rumah saja. Napi asimilasi dibebaskan, ujung-ujungnya maling mulai hilir mudik sampai ke pelosok desa. Walaupun belum tentu pelakunya mantan napi, banyak penjahat baru yang terlahir dari krisis ini. Banyak manusia yang tidak dapat memanusiakan manusia lainnya. Hilang sudah sila kedua dari Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab. Mulai egois memikirkan diri sendiri, hilang empati. Membeli barang-barang secara membabi buta. Yang berkuasa merasa semua dapat dibeli dengan uang. Tapi semua itu tidak ada harganya dimata Allah. Maut tak memandang kaya miskin. Kun fayakun, nek Gusti Pengeran berkehendak, le..gampang banget ngerubah uripe wong. Dadi welingku ojo adoh seko Gusti Pengeran. Ojo nganti teteging imanmu goyah, eling lan tansah dieling-eling. Gusti Pengeran mboten sare. Yakin, nek pecoban seko Gusti kui enek hikmahe. Ojo nganti pedhot nggonmu ndonga. Dan pada senja ini, sambil memandang got yang berair keruh aku sampaikan banyak pengharapan tentang kehidupan. Seperti halnya Lelaki tua yang mencintai langgar seperti mencintai Rabbnya. 21 Ramadhan 1441 H.My Library
Jumat, 12 Agustus 2022
Selasa, 09 Agustus 2022
Sepenggal Kisah Bersama
Covid 19
Ada
yang tau apa itu virus corona???
Corona
Virus Disease 2019 atau lebih dikenal dengan covid 19 adalah suatu virus yang
menyerang sistem pernafasan manusia. Pertama kali ditemukan di Wuhan, China.
Covid 19 ini sudah menjadi pandemi karena menyebabkan banyak korban jiwa di
hampir semua negara di dunia dan pasti menjadi mimpi buruk bagi kita semua.
Segala macam aktivitas terhenti, perekonomian rapuh, korban meninggal mencapai
ribuan per harinya. Duka tidak hanya dirasakan bagi luar negeri saja, Indonesia
akhirnya mendapat giliran juga. Indonesia sudah tidak “kebal” lagi, dewi
fortuna bagi iklim tropis sepertinya sedang tidak berpihak pada kita. Kali ini
aku ingin membagi sedikit cerita di masa
pandemi.
Maliq,
anak keduaku lahir sehari setelah Surakarta menetapkan adanya KLB (Kejadian
Luar Biasa) Covid 19 tanggal 14 Maret karena ada pasien covid yang meninggal
dunia. Lockdown di Indonesia diberlakukan dikarenakan mulai banyaknya yang
terinfeksi oleh COVID-19. Saat itu aku yang baru setahun bekerja di sebuah
sekolah tinggi swasta di Tasikmalaya untungnya sudah mengajukan 3 bulan cuti
melahirkan dan mudik ke tanah kelahiranku, Wonogiri. Sedangkan anak pertamaku
yang masih duduk di bangku TK B tinggal di Wonogiri bersama dengan orang tuaku.
Tepat
tanggal 6 Maret lalu aku diantar suamiku dengan kereta api, alasannya ya karena
kandunganku yang tinggal menghitung hari membuatku tidak kuat untuk melakukan
perjalanan lebih dari 10 jam. Dokter memperkirakan hari perkiraan lahir sekitar
tanggal 17-19 Maret dan menyarankan untuk mulai cuti pada pertengahan Februari,
tapi aku keukeuh untuk sampai bulan Maret karena sudah berangan-angan untuk
berkumpul dengan keluarga besar di Wonogiri saat lebaran nanti. Karena
kebanyakan saudara dari keluarga simbah merupakan perantauan, dan tahun ini
adalah jatah mudik bersama untuk bersilaturahmi.
Seharusnya
sulungku, Mas Makki tanggal 15 Maret juga mengikuti lomba Drumband Tingkat TK
se karesidenan Surakarta dan tanggal 23 Maret dijadwalkan akan mengikuti
turnamen bulu tangkis di Magelang. Namun apa mau dikata, sejak hari Jumat
sekaresidenan Surakarta sudah gempar dengan virus corona yang berhasil menjebol
gawang Indonesia itu. Padahal persiapan dari TK anakku sudah final, tinggal
berangkat. Karena ststus KLB sudah ditetapkan konfirmasi dari panitia pun
datang, lomba ditunda sampai dengan waktu yang belum ditentukan. Segala
perasaan campur aduk disana. Lega karena anak-anak tidak harus datang ke lokasi
dekat zona merah, sedih karena kapan lagi dapat tampil bersama teman-teman grup
drumbandnya di TK. Karena anakku sebentar lagi juga lulus dan melanjutkan ke
SD.
Sama
halnya dengan lomba drumband, pihak panitia turnamen bulu tangkis juga
mengumumkan hal serupa. Padahal latihan fisik hampir setiap hari dilakukan.
Kegiatannya berselang seling dengan latihan drumband di TKnya. Persiapan yang
sudah maksimal terpaksa harus terhenti karena Dinas Pendidikan Kabupaten
Wonogiri juga meliburkan sekolah selama 14 hari. Sampai sekarang, kegiatan belajar
mengajarpun dilakukan dengan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) tanpa tatap muka.
Dan aku, walau mengajukan cuti, tetap dapat bekerja karena semua rekan kerjaku
juga bekerja dari rumah alias Work From Home.
Lebaranpun
menyapa, segalanya dilakukan dalam jaringan (daring) mulai dari sungkeman dan
silaturahmi. Jadi kebiasaan baru ketika tangan tak dapat berjabat, maka
gawaipun jadi sahabat. Ya, kita jadi berteman akrab dengan gawai. Karena bisa
silaturahmi, belanja, bahkan sekolahpun juga dengan daring. Hampir semua kota
melakukan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Segala aktifitas diberi
jarak, masyarakat diminta untuk selalu menjaga kebersihan dengan mencuci tangan
dengan sabun dan air mengalir setiap saat, tak lupa juga menggunakan masker.
Masa
PSBB di Tasikmalaya selesai bersamaan dengan habisnya masa cutiku, mau tidak
mau aku pun harus kembali menjalani tugas dan tanggung jawabku. Surat tugas
dari kampus aku terima pada awal Juni. Hal ini dilakukan karena untuk masuk ke
daerah lain harus memiliki surat izin terlebih dahulu. Di kampus, sistem piket
masih dilakukan dengan perbandingan 50:50. Seminggu masuk 2-3 kali. Kebiasaan
baru di New Normal pun dipatuhi dengan segala macam protokol kesehatan yang
diberlakukan untuk melindungi kita semua. Di kantor, pasar, pusat-pusat
perbelanjaan, tempat-tempat ibadah semuanya menerapkan protokol kesehatan. Hanya
saja sekolah-sekolah masih tutup dan berlanjut untuk PJJ. Hal ini dilakukan
dengan pertimbangan dari berbagai pihak. Memang berat di kuota sih..tapi harus
bagaimana lagi. Kita tentu lebih menyayangi anak kita kan? Dari pada mati
konyol lebih baik berkorban sedikit dengan boros di kuota. Ambil positifnya
saja, kita dapat meluangkan waktu belajar bersama anak. Ini juga sebagai upaya untuk
terus menjadi orang tua, guru dan sahabat bagi anak kita. Bagaimana dengan
kalian?
PANDEMI? YUK AJARKAN
ANAK BACA BUKU DENGAN METODE MONTESSORI!
Oleh:
Oktaviana Maya Dewi
Apa
yang akan kamu lakukan jika di hadapanmu ada sebuah buku yang tengah terbuka??
Membacanya atau acuh saja??
Membaca,
sepertinya kata yang mudah dipahami. Akan tetapi wujud kongkrit dari membaca
sangatlah luas jika dijabarkan. Bagi anak usia dini membaca sepertinya belum
begitu penting. Tapi, bukankah penanaman kegemaran membaca sebaiknya dipupuk
sedini mungkin. Bahkan sejak dalam kandungan. Apalagi disaat pandemi seperti
saat ini. Peran kita sebagai orang tua sangatlah penting bagi pendidikan
karakter anak. Bagi orang tua yang sehari-hari bergelut dengan aktivitas
membaca mungkin tidak diragukan lagi, namun bagaimana jadinya jika orang tuanya
sangat jauh dari kebiasaan membaca.
Apa
sih keutamaan membaca untuk anak-anak?
Di
masa anak-anak, perkembangan otak mereka sangat cepat. Jika sejak dalam
kandungan janin sudah dibiasakan dibacakan buku maka menurut penelitian otak
anak yang lahir tersebut lebih cerdas dibandingkan dengan anak yang tidak
dibacakan buku. Anak-anak dibiasakan dengan buku dengan cara membacakan dengan
nyaring. Bahkan untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus membaca dengan nyaring
dapat menstimulasi otak mereka. Dengan mendengar mereka dapat tenang dan bisa
fokus jika kita membacanya dengan intonasi yang sesuai. Pada anak usia dini
membaca dapat mengembangkan kemampuan bahasanya, menambah pemahaman mereka akan
ilmu pengetahuan.
Interaksi
antara buku, orang tua dan anak menurut Ibu Rossie dari Read Aloud dapat
meningkatkan kualitas hidup anak. Melek gambar dulu baru melek huruf. Sedangkan
Miss Zahra Zahira, seorang montessorian juga mengatakan bahwa perlu ada
beberapa hal yang diperhatikan dalam mengajarkan membaca kepada anak-anak
dengan tepat. Adakah yang masih asing dengan Montessori? Apa sih Montessori
itu?
Metode
montessori pertama kali dikenalkan oleh seorang dokter Italia yang bernama
Maria Montessori di sekolah pertamanya Casa de Bambini, walaupun di negaranya
sudah berjalan lebih dari 1 abad Indonesia masih belum lama menerapkannya dalam
kegiatan belajar mengajar. Guru-guru masih menggunakan metode konvensional
dengan mengeja dalam mengajarkan membaca pada anak-anak. Hal ini membuat anak
merasa jenuh dan enggan untuk hanya sekedar membuka buku. Karena tuntutan harus
bisa baca, harus bisa hafal. Ini yang menjadi PR kita sebagai orang tua,
bagaimana sih biar membaca menjadi menyenangkan?
Miss
Zahra Zahira, mengusung montessori dengan bahasa indonesia, sehingga dapat kita
aplikasikan di rumah bersama buah hati kita. Sebelum membaca, ajari menulis
dahulu. Tulisan merupakan alat komunikasi anak, menulis membutuhkan kemampuan
yang lebih sederhana daripada membaca. Saat menulis anak-anak membutuhkan
koordinasi antara otak dan tangan. Lama kelamaan anak-anak akan memahami bahwa
ada keterkaitan antara tulisan dengan huruf. Sedangkan saat membaca anak-anak
membutuhkan kemampuan yang lebih kompleks dengan menghafal simbol, merangkai
suku kata, sampai memahami makna. Yang pertama ajari untuk menulis namanya.
Setelah itu baru kata-kata lain yang ada maknanya.
Ada
2 tahapan dalam menulis. Tahap pre writing dan writing.
Tahap
pre reading meliputi Practical Life Activity dengan melakukan berbagai aktivitas
sehari-hari yang berguna untuk melatih kekuatan otot tangan, melatih
cengkeraman ataupun genggaman dengan menjepit, koordinasi antara tangan dengan
mata, serta koordinasi. Seperti membuka dan menutup toples, memotong sayuran,
masak-masakan, dan lain-lain. Sedangkan sensorial activity seperti memindahkan
silinder-silinder dari tray yang satu ke tray yang lain, mengurutkan kubus dari
yang terbesar ke yang terkecil atau sebaliknya, dan lain-lain.
Untuk
tahap writing anak-anak bermain dan melakukan aktivitas dengan metal inset,
sand paper, sand tray, green boards dan lined paper sehingga semua kegiatan
memacu rasa ingin tahu dan antusiasme anak.
Membaca
haruslah menjadi kegiatan yang menyenangkan. Anak-anak tidak merasa terbebani
dan melakukan kegiatan ini dengan senang.
Tahapan
membaca juga ada 2, tahap pre reading dan reading.
Tahap
pre reading meliputi kegiatan bercakap-cakap, bercerita, bernyayi, membacakan
buku cerita, mencocokkan objek, mencocokan kartu, mencocokan objek dengan
kartu, kartu nomenklatur, thematic letters activity,
Sedang
untuk tahap reading bahasa indonesia sudah dimodifikasi melalui metal inset,
sandpaper letter suku kata, large movable alphabet bahasa Indonesia, Pink Blue Green
Series. Disini kita harus mencari kata yang memang ada maknanya. Sehingga anak
akan memahami bahwa tulisan, ucapan dan bendanya memang berhubungan. Disinilah
kemampuan kita diuji untuk mempersiapkan kemampuan anak untuk dapat membaca
mandiri. Orang tua akan lebih memahami bahwa anak memiliki keistimewaan masing-masing.
Ada yang cepat adapula yang lambat, kita dituntut untuk mengetahui bahwa
anak-anak memiliki sensitive period dimana kita harus bisa follow the child.
Anak
yang sudah bisa membaca mandiri kadang masih minta dibacakan oleh orang tuanya,
hal ini dilakukan karena anak hanya meminta waktu bersama orang tua. Bukannya
anak manja dan tidak mandiri, tapi lebih kepada adanya bounding antara anak dan
orang tua dalam hal ini. Hal inilah yang nantinya akan dapat membangun
komunikasi yang baik antara kita sebagai orang tua dengan anak.
Perlu
diingat, bahwa mendongeng berbeda dengan membacakan cerita. Bila mendongeng
lebih kepada aktivitas Karena ada aktivitas fisik dengan buku, sehingga akan
meningkatkan minat baca anak.
Kurniastuti,
I. (2016). Mengenal Kesukaran Belajar Membaca Menulis Awal Siswa Sekolah Dasar
Dan Metode Montessori Sebagai Alternatif Pengajarannya. Jurnal Penelitian,
19(2).
Sumitra,
A., & Sumini, N. (2019). Peran Guru dalam Mengembangkan Kemampuan Minat
Baca Anak Usia Dini Melalui Metode Read Aloud. Jurnal Ilmiah Potensia, 4(2),
115-120.
Webinar
PKM perpusnas
Workshop
membaca, menulis menyenangkan dengan montessori bersama Zahra Zahira.